Angin malam berhembus menusuk tulang-tulang Nida yang sedang berjalan menyusuri jalan setapak dikomplek perumahannya. Dingin sekali, batin Nida. Dengan cepat diresletingnya jaket yang menghiasi tubuh wanita itu. Hari ini harus pulang larut malam karena ada seorang pasiennya yang mendadak terkena serangan jantung. Untungnya, Nida selalu sigap jika hal seperti ini tiba-tiba menimpa dirinya. Gadis berumur 35 tahun ini sudah menjalani profesinya sebagai dokter kurang lebih 10 tahun disebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Nida sangat senang ketika hari dimana dia bersumpah menjadi seorang dokter. Sampai saat ini, banyak sekali pengalaman yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup.
Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi ketika Nida sampai dirumahnya. Nida memang belum menikah karena ada sesuatu hal yang menyebabkan dirinya harus menjomblo sampai sekarang ini.
Ketika sampai dirumah, Nida memilih untuk duduk diruang santai dan menyalakan TV. Dia menonton TV sejenak sambil memakan keripik singkong yang sejak kemarin tergelatak dimeja depan TV. Disaat Nida mengganti-ganti siaran televisi, suatu tayangan muncul dan membuat dirinya tersentak dan menangis seketika.
Tayangan televisi tersebut menampilkan sebuah bom yang dilempar kesebuah tempat di negara Palestina. Bom tersebut langsung meluluh-lantahkan beberapa rumah warga Gaza. Ditampilkan beberapa mayat yang hangus dan berurai darah di seluruh kepalanya.
“Astaghfirullahaladzim... Ya Allah, Gaza bergejolak lagi.” Nida berkata dalam tangisnya.
Seketika itu juga Nida langsung mematikan televisinya. Dia termenung sebentar seakan-akan teringat akan sesuatu. Sesuatu yang sudah sangat lama ingin dilupakannya tetapi selalu ada aja yang berhasil membuatnya teringat lagi.
“Mereka memang jahat, tidak bermanusiawi. Karena mereka jugalah aku harus mengalami peristiwa seperti itu.” isak Nida.
Salah satu pengalaman yang tidak akan pernah dilupakannya meski ia bersikeras ingin melupakan itu. Peristiwa yang terjadi disaat dia dikirim ke Palestina untuk menjadi relawan medis di Rumah Sakit Indonesia. Disanalah semua keterkejutan itu terjadi.
Gaza, Palestina, 8 tahun yang lalu...
Pagi itu saat Nida mengemudikan mobil menuju rumah sakit, tiba-tiba sebuah bom terjun menghantam dua rumah penduduk. Bom itu berasal dari para tentara Israel. Seketika itu juga Nida langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit. Biasanya, ketika saat-saat seperti ini rumah sakit selalu ramai dipenuhi oleh pemuda-pemuda Gaza yang mengantarkan korban akibat serangan tentara Israel yang kejam.
Sepuluh menit kemudian, Nida telah sampai di rumah sakit. Nida langsung didatangi oleh dua korban yang hampir tewas akibat meledaknya bom tadi. Dua orang yang menjadi korban tadi adalah wanita berkisar umur 32 tahun dan anak perempuan berumur 8 tahun.
Nida dengan cepat mengeluarkan perlengkapan dokternya dari dalam tas.
“Siapa nama ibu ini?” tanya Nida dengan Bahasa Arab yang fasih kepada perawat yang membantunya.
“Fatimah, dok. Terkena bom disebelah barat dari rumah sakit ini.” jawab perawat tersebut kemudian.
“Tolong ambilkan obat bius karena ini akan menimbulkan sedikit nyeri pada korban.” kata Nida. Disaat dia sedang memeriksa denyut nadi pasien tadi, tiba-tiba ada seseorang yang memegang tangannya. Seorang pemuda tampan yang terlihat lelah dan khawatir berdiri didepan Nida sambil menahan air matanya.
“Tolong adik saya. Tolonglah dia. Dia sudah tidak menahan sakit dan panasnya bom itu.” kata pemuda itu dengan suara yang bergetar.
Nida tidak sanggup berkata apa-apa. Pemuda didepannya ini telah menciptakan suatu getaran didalam dirinya akibat ketulusan dan kekhawatiran pemuda itu. Dia hanya terdiam sampai kedatangan perawat yang membantunya tadi mengakhiri kebisuan lidahnya.
“Dokter, ini obat biusnya.” kata perawat tadi.
“Humaira, bisakah kau membius ibu ini? Anak disamping ini memerlukan bantuanku secepat mungkin. Cepatlah bius ibu ini sebelum dia mengakhiri napasnya.” kata Nida. Perawat itu mengangguk dan dengan cepat duduk disebelah ibu tadi untuk menyuntikkan obat bius kepadanya.
Segera setelah itu, Nida duduk disamping adik pemuda tadi yang sudah pingsan. Setelah diperiksanya denyut nadi anak tersebut, Nida berlari mengambil perban dan beberapa alat yang diperlukannya. Dibersihkannya luka-luka anak tersebut dan dibalutnya dengan perban yang sudah dilumuri dengan obat tertentu.
Nida berjalan menuju pemuda tadi yang sedang duduk sambil memejamkan matanya diatas kursi tunggu rumah sakit.
“Alhamdulilah... adik anda sudah dirawat dengan baik oleh teman-teman medis.” kata Nida. Pemuda itu membuka matanya dan berdiri dihadapan Nida.
“Terima kasih ya dok. Terima kasih banyak karena sudah menolong adik saya. Saya tahu dokter sendiri yang merawat adik saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi, karena dialah satu-satunya keluarga yang saya miliki sekarang ini.” kata pemuda tampan itu dengan nada yang pasrah. Dia terlihat sedih sehabis berkata seperti tadi.
Nida tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya termenung memandangi pemuda yang ada didepannya dengan perasaan iba. Sesaat air matanya hendak jatuh tetapi ditahannya dengan sekuat tenaga agar tidak membuat pemuda didepannya bertambah sedih. Tiba-tiba pemuda itu memandangnya.
“Dokter, perkenalkan nama saya Raihan.” kata pemuda itu sambil mengulurkan tangannya.
“Oh ya.. Assalamu’alaikum, nama saya Rainida Puspa dari Indonesia.” kata Nida sambil membalas uluran tangan Raihan.
Pemuda itu tersenyum tetapi tidak bisa menyembunyikan guratan kelelahan yang terukir diwajahnya. Raihan adalah laki-laki yang sangat tangguh dan pekerja keras. Itu bisa terlihat dari kilatan matanya yang melambangkan ketegaran.
“Sekarang saya harus pergi. Saya harus bertugas lagi menjaga kawasan disekitar sini bersama para pemuda lainnya. Jika terjadi apa-apa dengan saya, maukah dokter menjaga adik saya?” kata Raihan sambil tersenyum.
Nida memandangi wajah pemuda didepannya dengan air mata yang hampir tumpah. Nida hanya mengangguk lemah. Dia terlalu meresapi kata-kata pemuda yang baru dikenalnya ini. Tiba-tiba saja ada yang lebih mengagetkannya, Raihan dengan tiba-tiba memegang tangannya.
“Terima kasih, dokter. Sebelum saya pergi, ada yang saya ingin ceritakan kepada dokter. Setiap hari ketika melewati jalan didepan rumah sakit ini, saya melihat ada seorang perempuan yang begitu sigapnya merawat puluhan korban tak bersalah. Dia selalu merawat mereka dengan seluruh tenaga serta ketulusan yang alami. Wajahnya yang putih dan cantik dihiasi oleh keringat dan coretan darah dimana-mana. Tapi dia tidak peduli dengan semua itu. Demi nyawa orang-orang tidak bersalah dia tetap berusaha sekuat yang dia mampu.” Raihan menelan ludahnya. Dan berkata lagi.
“Dokter, karena dialah saya selalu bersemangat untuk menghadapi hari-hari saya. Karena dia juga yang telah membangkitkan rasa cinta yang sudah lama tidak bisa saya nikmati dengan indahnya.” Raihan kembali terdiam dan menatap Nida dengan tatapan yang susah untuk dijelaskan. Kemudia dia kemabali meneruskan kata-katanya.
“Tahukah siapa perempuan yang saya maksud? Perempuan itu adalah dokter sendiri. Mungkin ini terdengar tidak wajar tetapi saya sudah menyimpan perasaan ini sejak saya melihat dokter untuk pertama kalinya. Dokter saya ingin mengatakan... Ana uhibbuki...” kata Raihan dengan penuh penekanan.
Setelah berkata seperti itu, Raihan melepaskan genggaman tangannya dan tersenyum. Kemudian dia pergi tanpa berkata apa-apa lagi bahkan tanpa menunggu reaksi apa yang akan diberikan Nida kepadanya.
Sementara Nida hanya bisa diam membisu ditempatnya berdiri sambil melihat kepergian Raihan didepan matanya. Dia menangis sebisa mungkin dan hanya menangis terduduk dilantai.
Ternyata, pernyataan cinta Raihan kepada Nida menjadi kalimat terakhir pertemuan mereka. Karena sejak saat itu, Nida tidak pernah melihatnya lagi. Itulah pertemuan pertama dan terakhir untuk Nida.
Jakarta...
Nida terbaring lemah diatas tempat tidurnya. Mengingat peristiwa menyedihkan itu membuat tenaganya habis terkuras. Dia hanya diam membisu dengan mata terarah lurus ke atas atap kamar tidurnya. Terlihat bibirnya mengutarakan suatu kalimat.
“Aku belum menyatakan kepadamu, Raihan, bahwa aku juga mencintaimu untuk pandangan pertamaku.” kata Nida disertai air mata yang jatuh didalam keheningan malam.
No comments:
Post a Comment