Wednesday, November 13, 2013

Firdaus Mimpi


Sebelum ini ku temukan diriku tak berdaya
Pergi dengan lunglainya tanpa tujuan

Sebelum ini ku temukan diriku terpaku merana
Menyelami dasar-dasar kesedihan dunia

Sebelum ini ku temukan diriku tak bernyawa
Tak ada jiwa yang mengisi, hanya rasa haus yang membara

Lalu semua berubah, kau hadir disana menyalamiku dengan senyum penuh arti
Senyum yang ku kira begitu tulus sampai aku lupa akan diriku

Kau telah membawaku ke dunia yang jauh lebih baik dari sebelumnya, sepemikirku
Aku terpesona melihat dirimu begitu... begitu bercahaya diantara barisan makhluk bernyawa
Bahagianya diriku menemukan sebuah inspirasi yang ajaib
Tapi... tapi itu hanya sebuah halusinasi

Berbalik arah ketika aku benar, benar menganggapmu ada
Ternyata... kau sama sekali tidak nyata
Kau menghilang ditelan cahaya suram yang berubah menjadi hitam

Aku kehilangan keseimbangan, aku terjatuh
Aku tidak tahu apa yang terjadi
Aku terkubur di alam kelam
Aku... aku seakan-akan tidur untuk selamanya

Berjuta-juta waktu berlalu dengan diamnya
Tanpa pernah meninggalkan dirimu untuk dikenangi

Hari ini... hari ini kawanku...
Cahaya yang dulu hitam itu berganti warna
Putih dan bersinar seperti mutiara
Oh tidak... mungkin ini mimpi
Cahaya itu, cahaya itu berganti lagi
Berganti lagi...
Kulihat sesosok makhluk kenganganku dimasa lalu hadir dengan bijaksana
Kau seperti... nyata...

Kemudian semua berganti tumpuan
Kau kembali dengan membawa cahaya putih itu
Tapi... kali ini bukan tipu daya
Kau menyalamiku dengan cinta
Cinta yang selama ini ku tunggu

Aku bersumpah, aku bahagia sekali
Aku menemukan firdaus mimpiku kembali
Kau... kau adalah itu
Firdaus mimpiku yang dulu tenggelam
Kini kembali dengan segenggam pualam

Sunday, July 7, 2013

Ketika Kesuksesan Berkata...


Aku...
Aku adalah sebuah kata
Aku hanyalah kumpulan dari beberapa huruf yang terangkai menjadi sebuah kata
Kata... kata yang sangat berarti untuk beberapa orang

Aku...
Aku terlahir dari semangat para pejuang
Aku terbuat dari keringat para penantang
Aku tercipta dari keyakinan para pemenang

Aku...
Adakah yang bisa menebak siapa aku?
Adakah yang bisa melihat keberadaanku?
Adakah yang bisa meraba bagaimana bentukku?

Aku...
Ya Aku...
Susah untuk kalian menemukanku tanpa pengorbanan
Sulit untuk kalian melihatku tanpa terjatuh terlebih dahulu
Sukar untuk kalian menggapaiku tanpa usaha

Hai para pejuang...
Teruslah berusaha mencariku
Teruslah berlari mengejarku
Teruslah terjatuh agar kalian bisa menggenggamku

Aku...
Sekali lagi aku ingin bernyanyi
Butuh semangat untuk melihatku
Butuh usaha untuk mendengarku
Butuh perjuangan untuk merabaku

Jikalau kalian tidak berhasil menjemputku hari ini...
Pantang menyerahlah untuk esok hari...

Sesungguhnya, aku ada disana menunggu dengan senang hati...


Thursday, April 25, 2013

Today My Life Begins


Setiap hari hanya menahan rasa ini
Rasa yang tersimpan sudah berumur tua
Ketika tiba waktunya, hanya deru angin yang terdengar
Terkadang susah untuk menguraikannya
Terkadang mudah untuk memikirkannya
Dilema...
Berdiri di antara dua persimpangan
Barat atau timur
Di segala penjurunya telah mempersiapkan senjata
Mengucapkan kalimat yang cukup sakral untuk memulainya
Tapi, nampaknya itu bukan menjadi jaminan atas kedamaian
Masih merenung di tengah dua samudera ini
Masih menikmati bagaimana hati ini memendamnya
Tiba-tiba merpati datang
Membawa sepucuk surat yang kasat mata
Merpati itu berteriak... menyampaikan sepatah kata yang menyucikan hati
Tak sadar, kaki ini melangkah
Kemudian berlari
Terengah-engah
Dan akhirnya sampai di tempat yang dipenuhi oleh matahari
Mencoba membisikkan sesuatu, pelan-pelan
Sepatah, dua patah, tiga patah...
Sampai akhirnya nyanyian ini berhenti
Tuhan...
Hari ini adalah lembaran yang di tunggu-tunggu
Puncak dari semua konflik
Akhirnya, yang dulu ku tanam dalam hati sekarang tumbuh dan hidup mandiri


Saturday, April 20, 2013

HAPPY BIRTHDAY ;)


HAPPY BIRTHDAY MR. DANIEL WOLFSON!!!
LOVE AND MISS FROM INDONESIA 
SUCCESS, HEALTH, AND LONG LIFE. 
WE LOVE AND MISS YOU SO MUCH.



                                                                     Sincerely,
                 Amel, Afifah, Keke, Lana, Riza, and Yashka 

Sunday, January 20, 2013

Takdir Untukku


Setiap hari hanya aku lewati dengan bercerita dalam hati
Menunggu yang ku ceritakan itu terjadi
Aku terlalu takut untuk mengumbarnya
Bukan, mungkin aku malu untuk membicarakannya

Sudah bertahun-tahun seperti ini
Menulis kisah yang tak pernah aku bagikan
Orang-orang berkata, “bicaramu adalah doamu..”
Mugkin bagi mereka itu hanyalah sebuah omong kosog
Tapi tidak untukku

Jikalau boleh berkata, aku lebih senang memendam itu semua didalam benak ini
Aku lebih senang menikmatinya dengan caraku sendiri
Tidak pernah terlintas dipikiranku untuk mengumumkannya

Sendiri..
Penyendiri yang sibuk dengan dunia kesendiriannya
Ironis sekali...
Sejujurnya kawan, ingin sekali rasanya aku menuturkannya kepada halayak
Tapi ketakutan ini selalu menang

Ya, aku ditakdirkan untuk seperti ini
Ditakdirkan untuk menjadi penulis hebat... hebat dalam menyembunyikannya...

Tuesday, January 8, 2013

When Was The Last Time You Dreamt You Could Fly?

When was the last time you dreamt you could fly? Or swim? This summer I held a young boy with an invisible hand and he believed he could swim. “I can swim!” No you can’t, I’m holding you. But you can fly. With my free hand I dragged a boy to the surface and propelled him spluttering forward on his command for another try. The pretty little girl whose brother’s pants I hung in the tree to dry because he’d forgotten his swimwear the week before, looked at me and laughed her adult laugh at my childish humor. Not childish actually. She just nailed it, and me, in that moment to her personality. Her brother cried, not understanding the game of splashing each other that was taking hold of the paddling pool in the park, and mistaking it for attacking. I tried to coach him to splash back, and he tried. But he did it with trepidation and fear of reprisal. His splashing turned into retribution. He splashed then turned and held a hand of fear in his attackers’ direction. “well, I don’t know what to do my boy. You don’t have goggles. You need goggles.” He turned away in failure. “I suppose you could wear my sungl..” He beamed with joy, so I had no choice but to let him look like the coolest splasher in the pool. I turned his sister’s chair to face me and told her to copy every movement I made. I lifted my hand, she lifted hers. I pretended to fall asleep, she mirrored. I winced a smile into a frown and she followed. I started to fly and she did too.

Is there a story in this? Two weeks of joy and tears and piggy backs, although I only got the joy. Sadaq hobbled up to me, beside me, and tried to slice a cucumber. His deformed hand was hidden in his sleeve so I wasn’t sure why every slice was an almighty effort. “Just hold it with your right hand like this and left hand does this”. Slice. Slip. “Like this”. Slip. “I can’t”. slip. “Oh, ok, maybe this is not for you”. His arced hand hidden in his red jumper probably had been telling him that all along and now had a reason to be smug. Later his smug leg would be telling him he should never have tried to go on that long walk in the hot sun with the others. But he did, and he didn’t leave my side. Sadaq, my faithful wounded boy with his smug limbs. But no, I was the faithful one with shameful limbs who wrapped his fajita, tied his jumper around his waist, held his biscuit; walked at his pace and sheltered in his shadow. 

The bus flew through the streets and the kids lifted their arms to the ceiling. “Drop those arms and you’re out!” “But why are we keeping them up?” “To be the best! Stop resting your arms on the headrest!” “I’m not!” “He was!” “Was he?” YEEEEEESSS!” Fwump, the bus went over a hump and the boy from Guinea landed with both feet firmly planted, rooted and growing.  They spread through the bottom of the bus and his branches bent up and crowded the inside. He pulled his collar down, and the rivulets of kindness that came out of those scars lapped at us who came close. But now it’s getting sentimental. “Hey, leave him alone!” “He was touching me!” “It doesn’t matter just let it go!” “Ishmael…” Came the call. “I’m on my way to your house now; do I have to talk to your mum about your behavior?” “No… but he was… get off meeee” The grumbles and the moans and the engine revved the bus forward. In another bus, on another day, air came in tight into sleeping mouths that couldn’t have breathed the high altitude freezing air that in another lifetime, they or their parents sailed in on. Now, the hands sailed down one by one except for the one with the quiet smile in the middle row effortlessly remaining, and I thought of Olympiads crossing the line, the white ribbon wrapping around them, “ok, you’re the best”.


-Daniel Wolfson, London, England.

Wednesday, December 19, 2012

Cintaku Berujung Di Palestina

                 Angin malam berhembus menusuk tulang-tulang Nida yang sedang berjalan menyusuri jalan setapak dikomplek perumahannya. Dingin sekali, batin Nida. Dengan cepat diresletingnya jaket yang menghiasi tubuh wanita itu. Hari ini harus pulang larut malam karena ada seorang pasiennya yang mendadak terkena serangan jantung. Untungnya, Nida selalu sigap jika hal seperti ini tiba-tiba menimpa dirinya. Gadis berumur 35 tahun ini sudah menjalani profesinya sebagai dokter kurang lebih 10 tahun disebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Nida sangat senang ketika hari dimana dia bersumpah menjadi seorang dokter. Sampai saat ini, banyak sekali pengalaman yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup.

            Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi ketika Nida sampai dirumahnya. Nida memang belum menikah karena ada sesuatu hal yang menyebabkan dirinya harus menjomblo sampai sekarang ini.
            Ketika sampai dirumah, Nida memilih untuk duduk diruang santai dan menyalakan TV. Dia menonton TV sejenak sambil memakan keripik singkong yang sejak kemarin tergelatak dimeja depan TV. Disaat Nida mengganti-ganti siaran televisi, suatu tayangan muncul dan membuat dirinya tersentak dan menangis seketika.
            Tayangan televisi tersebut menampilkan sebuah bom yang dilempar kesebuah tempat di negara Palestina. Bom tersebut langsung meluluh-lantahkan beberapa rumah warga Gaza. Ditampilkan beberapa mayat yang hangus dan berurai darah di seluruh kepalanya.
“Astaghfirullahaladzim... Ya Allah, Gaza bergejolak lagi.” Nida berkata dalam tangisnya.
Seketika itu juga Nida langsung mematikan televisinya. Dia termenung sebentar seakan-akan teringat akan sesuatu. Sesuatu yang sudah sangat lama ingin dilupakannya tetapi selalu ada aja yang berhasil membuatnya teringat lagi.
“Mereka memang jahat, tidak bermanusiawi. Karena mereka jugalah aku harus mengalami peristiwa seperti itu.” isak Nida.
            Salah satu pengalaman yang tidak akan pernah dilupakannya meski ia bersikeras ingin melupakan itu. Peristiwa yang terjadi disaat dia dikirim ke Palestina untuk menjadi relawan medis di Rumah Sakit Indonesia. Disanalah semua keterkejutan itu terjadi.

Gaza, Palestina, 8 tahun yang lalu...

            Pagi itu saat Nida mengemudikan mobil menuju rumah sakit, tiba-tiba sebuah bom terjun menghantam dua rumah penduduk. Bom itu berasal dari para tentara Israel. Seketika itu juga Nida langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit. Biasanya, ketika saat-saat seperti ini rumah sakit selalu ramai dipenuhi oleh pemuda-pemuda Gaza yang mengantarkan korban akibat serangan tentara Israel yang kejam.
            Sepuluh menit kemudian, Nida telah sampai di rumah sakit. Nida langsung didatangi oleh dua korban yang hampir tewas akibat meledaknya bom tadi. Dua orang yang menjadi korban tadi adalah wanita berkisar umur 32 tahun dan anak perempuan berumur 8 tahun.
            Nida dengan cepat mengeluarkan perlengkapan dokternya dari dalam tas.
“Siapa nama ibu ini?” tanya Nida dengan Bahasa Arab yang fasih kepada perawat yang membantunya.
“Fatimah, dok. Terkena bom disebelah barat dari rumah sakit ini.” jawab perawat tersebut kemudian.
“Tolong ambilkan obat bius karena ini akan menimbulkan sedikit nyeri pada korban.” kata Nida. Disaat dia sedang memeriksa denyut nadi pasien tadi, tiba-tiba ada seseorang yang memegang tangannya. Seorang pemuda tampan yang terlihat lelah dan khawatir berdiri didepan Nida sambil menahan air matanya.
“Tolong adik saya. Tolonglah dia. Dia sudah tidak menahan sakit dan panasnya bom itu.” kata pemuda itu dengan suara yang bergetar.
            Nida tidak sanggup berkata apa-apa. Pemuda didepannya ini telah menciptakan suatu getaran didalam dirinya akibat ketulusan dan kekhawatiran pemuda itu. Dia hanya terdiam sampai kedatangan perawat yang membantunya tadi mengakhiri kebisuan lidahnya.
“Dokter, ini obat biusnya.” kata perawat tadi.
“Humaira, bisakah kau membius ibu ini? Anak disamping ini memerlukan bantuanku secepat mungkin. Cepatlah bius ibu ini sebelum dia mengakhiri napasnya.” kata Nida. Perawat itu mengangguk dan dengan cepat duduk disebelah ibu tadi untuk menyuntikkan obat bius kepadanya.
            Segera setelah itu, Nida duduk disamping adik pemuda tadi yang sudah pingsan. Setelah diperiksanya denyut nadi anak tersebut, Nida berlari mengambil perban dan beberapa alat yang diperlukannya. Dibersihkannya luka-luka anak tersebut dan dibalutnya dengan perban yang sudah dilumuri dengan obat tertentu.
Nida berjalan menuju pemuda tadi yang sedang duduk sambil memejamkan matanya diatas kursi tunggu rumah sakit.
“Alhamdulilah... adik anda sudah dirawat dengan baik oleh teman-teman medis.” kata Nida. Pemuda itu membuka matanya dan berdiri dihadapan Nida.
“Terima kasih ya dok. Terima kasih banyak karena sudah menolong adik saya. Saya tahu dokter sendiri yang merawat adik saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi, karena dialah satu-satunya keluarga yang saya miliki sekarang ini.” kata pemuda tampan itu dengan nada yang pasrah. Dia terlihat sedih sehabis berkata seperti tadi.
Nida tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya termenung memandangi pemuda yang ada didepannya dengan perasaan iba. Sesaat air matanya hendak jatuh tetapi ditahannya dengan sekuat tenaga agar tidak membuat pemuda didepannya bertambah sedih. Tiba-tiba pemuda itu memandangnya.
“Dokter, perkenalkan nama saya Raihan.” kata pemuda itu sambil mengulurkan tangannya.
“Oh ya.. Assalamu’alaikum, nama saya Rainida Puspa dari Indonesia.” kata Nida sambil membalas uluran tangan Raihan.
            Pemuda itu tersenyum tetapi tidak bisa menyembunyikan guratan kelelahan yang terukir diwajahnya. Raihan adalah laki-laki yang sangat tangguh dan pekerja keras. Itu bisa terlihat dari kilatan matanya yang melambangkan ketegaran.
“Sekarang saya harus pergi. Saya harus bertugas lagi menjaga kawasan disekitar sini bersama para pemuda lainnya. Jika terjadi apa-apa dengan saya, maukah dokter menjaga adik saya?” kata Raihan sambil tersenyum.
            Nida memandangi wajah pemuda didepannya dengan air mata yang hampir tumpah. Nida hanya mengangguk lemah. Dia terlalu meresapi kata-kata pemuda yang baru dikenalnya ini. Tiba-tiba saja ada yang lebih mengagetkannya, Raihan dengan tiba-tiba memegang tangannya.
“Terima kasih, dokter. Sebelum saya pergi, ada yang saya ingin ceritakan kepada dokter. Setiap hari ketika melewati jalan didepan rumah sakit ini, saya melihat ada seorang perempuan yang begitu sigapnya merawat puluhan korban tak bersalah. Dia selalu merawat mereka dengan seluruh tenaga serta ketulusan yang alami. Wajahnya yang putih dan cantik dihiasi oleh keringat dan coretan darah dimana-mana. Tapi dia tidak peduli dengan semua itu. Demi nyawa orang-orang tidak bersalah dia tetap berusaha sekuat yang dia mampu.” Raihan menelan ludahnya. Dan berkata lagi.
“Dokter, karena dialah saya selalu bersemangat untuk menghadapi hari-hari saya. Karena dia juga yang telah membangkitkan rasa cinta yang sudah lama tidak bisa saya nikmati dengan indahnya.” Raihan kembali terdiam dan menatap Nida dengan tatapan yang susah untuk dijelaskan. Kemudia dia kemabali meneruskan kata-katanya.
“Tahukah siapa perempuan yang saya maksud? Perempuan itu adalah dokter sendiri. Mungkin ini terdengar tidak wajar tetapi saya sudah menyimpan perasaan ini sejak saya melihat dokter untuk pertama kalinya. Dokter saya ingin mengatakan... Ana uhibbuki...” kata Raihan dengan penuh penekanan.
            Setelah berkata seperti itu, Raihan melepaskan genggaman tangannya dan tersenyum. Kemudian dia pergi tanpa berkata apa-apa lagi bahkan tanpa menunggu reaksi apa yang akan diberikan Nida kepadanya.
            Sementara Nida hanya bisa diam membisu ditempatnya berdiri sambil melihat kepergian Raihan didepan matanya. Dia menangis sebisa mungkin dan hanya menangis terduduk dilantai.
Ternyata, pernyataan cinta Raihan kepada Nida menjadi kalimat terakhir pertemuan mereka. Karena sejak saat itu, Nida tidak pernah melihatnya lagi. Itulah pertemuan pertama dan terakhir untuk Nida.

Jakarta...

            Nida terbaring lemah diatas tempat tidurnya. Mengingat peristiwa menyedihkan itu membuat tenaganya habis terkuras. Dia hanya diam membisu dengan mata terarah lurus ke atas atap kamar tidurnya. Terlihat bibirnya mengutarakan suatu kalimat.
“Aku belum menyatakan kepadamu, Raihan, bahwa aku juga mencintaimu untuk pandangan pertamaku.” kata Nida disertai air mata yang jatuh didalam keheningan malam.